Protokol Penyembelihan Hewan Kurban dari Muhammadiyah pada Idul Adha 1441 H atau 2020

Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi umat Islam akan merayakan Idul Adha 1441 Hijriah atau 2020 Masehi.

Bagi yang tidak berhaji, salah satu ibadah sunah pada Idul Adha adalah menyembelih hewan kurban. Di Indonesia, hewan kurban yang lazim disembelih adalah sapi dan kambing.

Tetapi, di masa pandemi covid-19 ini, ada hal berbeda yang harus diperhatikan umat Islam. Khususnya protokol pelaksanaan penyembelihan hewan kurban.Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menerbitkan Surat Edaran No 06/EDR/I.0/E/2020. Salah satu isinya adalah mengatur tentang penyembelihan hewan kurban di masa pandemi covid-19.

Dalam edaran itu, yang terkait dengan penyembelihan hewan kurban ada 5 poin yang harus diperhatikan warga Muhammadiyah khususnya dan umat Islam pada umumnya, seperti dikutip PORTAL JEMBER dari laman resmi Muhammadiyah.

1. Hukum ibadah kurban adalah sunah muakadah bagi muslim yang telah memiliki kemampuan untuk berkurban dengan tata cara sesuai tuntunan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

2. Pandemi covid-19 menimbulkan masalah sosial ekonomi dan meningkatnya jumlah kaum duafa, karena itu sangat disarankan agar umat Islam yang mampu untuk lebih mengutamakan bersedekah berupa uang daripada menyembelih hewan kurban.

3. Bagi mereka yang mampu membantu penanggulangan dampak ekonomi covid-19 sekaligus mampu berkurban, maka dapat melakukan keduanya.

4. Membantu duafa maupun berkurban keduanya mendapatkan pahala di sisi Allah SWT, namun berdasarkan beberapa dalil, memberi sesuatu yang lebih besar manfaatnya untuk kemaslahatan adalah yang lebih diutamakan.

5. Apabila ada yang berkurban maka dapat dilakukan alternatif berikut ini dengan urutan skala prioritas:

(a) kurban sebaiknya dikonversi berupa dana dan disalurkan melalui Lazismu untuk didistribusikan kepada masyarakat yang sangat membutuhkan di daerah tertinggal, terpencil, dan terluar atau diolah menjadi kornet (kemasan kaleng);

(b) penyembelihan hewan kurban dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) agar lebih sesuai syariat dan higienis;

(c) jumlah hewan yang disembelih di luar RPH hendaknya dibatasi (tidak terlalu banyak) untuk menghindari kemubaziran dan distribusi yang merata, disembelih oleh tenaga profesional, mengurangi kerumunan massa, dan pemenuhan protokol kesehatan yang ketat sehingga dapat menjamin keamanan dan keselamatan bersama;

(d) hewan kurban berupa kambing atau domba sebaiknya disembelih di rumah masing-masing oleh tenaga profesional dan apabila mampu dapat disembelih sendiri oleh orang yang berkurban (ṣāhibul-qurbān); dan

(e) pembagian daging kurban diantar oleh panitia ke rumah masing-masing penerima dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

“Khusus bagi warga Muhammadiyah beserta seluruh institusi dan amal usaha yang berada dalam lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah dari pusat sampai ranting hendaknya memedomani tuntunan yang ditetapkan oleh Persyarikatan,” bunyi bagian akhir edaran tersebut.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *